Infobuzzpress.com,, SIDRAP ā Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) terus mendorong digitalisasi tata kelola pemerintahan desa melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas-Sinergi 2026. Salah satu inovasi yang dikembangkan yakni aplikasi Siberas sebagai platform digital governance untuk mendukung pelayanan publik dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Pengembangan aplikasi tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Kantor Desa Kalosi Alau, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Jumat (28/8/2026).
Program hilirisasi ini menyasar tiga desa, yakni Desa Bulo, Desa Sipodeceng, dan Desa Kalosi Alau. Ketiga desa tersebut menjadi lokasi pendampingan UMS Rappang agar aplikasi Siberas dapat diterapkan dan dimanfaatkan secara optimal sesuai kebutuhan pemerintah desa serta masyarakat.
FGD dihadiri tim peneliti UMS Rappang, di antaranya Assoc. Prof. Dr. Ahmad Mustanir, S.I.P., M.Si., Dr. apt. Pratiwi Ramlan, S.Farm., M.A.P., Muh. Wildan Mauludy, A.Md., S.Pd., M.Kom., serta Kepala Biro Sistem Informasi (BSI) UMS Rappang Zulkarnain Ahmad, S.I.P., M.A.P.
Penelitian hilirisasi tersebut diketuai Rektor UMS Rappang Prof. Dr. H. Jamaluddin Ahmad, S.Sos., M.Si. Dalam kegiatan itu turut hadir Sekretaris Camat Dua Pitue, Kepala Desa Kalosi Alau Andi Apris, S.I.P., perangkat desa, BPD, Babinsa, tokoh masyarakat, serta warga Desa Kalosi Alau.
Mewakili Rektor UMS Rappang, Assoc. Prof. Dr. Ahmad Mustanir menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan aplikasi Siberas. UMS Rappang ingin memastikan aplikasi yang dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan pemerintah desa dan masyarakat.
“Yang kita inginkan dalam kegiatan ini adalah mendengarkan masukan dari pemerintah desa dan masyarakat. Dari masukan tersebut, kita bisa melihat bagaimana arah pengembangan Siberas dan fitur apa saja yang dibutuhkan,” jelasnya.
Menurutnya, Siberas dikembangkan untuk mendukung sistem informasi pemerintahan desa, khususnya dalam manajemen dan pelayanan publik berbasis digital.
Pendampingan akan dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan tim peneliti dan BSI UMS Rappang. Pemerintah desa maupun operator yang menangani aplikasi dapat menyampaikan kendala dan kebutuhan teknis untuk selanjutnya ditindaklanjuti melalui pendampingan.
“Harapannya, Siberas betul-betul bisa memberikan pelayanan yang efektif dan efisien, terutama dalam pelayanan masyarakat yang berbasis digitalisasi,” ujarnya.
Dr. Ahmad mengatakan program hilirisasi riset tersebut akan berlangsung selama kurang lebih satu tahun. Dalam periode tersebut, UMS Rappang akan melakukan pendampingan di tiga desa sasaran.
Pendampingan tidak hanya berfokus pada penggunaan aplikasi, tetapi juga pengembangan fitur sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing desa.
“Memang ada perbedaan sedikit ciri khas antara Bulo, Sipodeceng dan Kalosi Alau berkaitan dengan Siberas. Karena itu, masukan dari masing-masing desa penting untuk menjadi bahan pengembangan,” katanya.
Selain pendampingan, UMS Rappang juga menyiapkan kompetisi pemanfaatan aplikasi Siberas bagi tiga desa sasaran. Kompetisi tersebut akan menilai sejauh mana aplikasi dimanfaatkan dan diterima oleh masyarakat.
“Nanti tiga desa ini akan kita lombakan. Siapa yang aplikasi Siberas-nya paling bagus, paling diterima dan dimanfaatkan masyarakat secara luas, akan mendapatkan hadiah laptop,” ungkap Dr.Ahmad.
Ia menegaskan, kompetisi tersebut bukan sekadar mencari pemenang, tetapi menjadi bagian dari upaya mendorong pemerintah desa agar semakin aktif memanfaatkan teknologi digital dalam pelayanan publik.
UMS Rappang juga membuka peluang pelaksanaan pelatihan tambahan apabila pemerintah desa membutuhkan peningkatan kapasitas dalam penggunaan maupun pengembangan aplikasi.
“Kalau ada usulan untuk mengadakan pelatihan, kita akan laksanakan. Pemerintah desa tidak perlu khawatir dengan hal-hal teknis pendukung kegiatan pendampingan. Kita yang siapkan,” tuturnya.
Program ini, lanjut Dr. Ahmad, menjadi bentuk komitmen UMS Rappang dalam mendorong hasil riset agar tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat diterapkan langsung dan memberikan dampak bagi masyarakat.
Melalui pendampingan selama program berlangsung, UMS Rappang berharap Siberas dapat berkembang menjadi platform digital yang mampu memperkuat tata kelola pemerintahan desa, meningkatkan efektivitas pelayanan publik, serta mendukung pengelolaan potensi ekonomi desa.
“Kita ingin hasil riset ini betul-betul digunakan. Karena itu, masukan dari pemerintah desa dan masyarakat akan menjadi catatan penting bagi tim untuk pengembangan Siberas ke depan,” pungkasnya









