SIDRAP, Infobuzzpress.com β Di tengah tantangan musim kemarau yang kerap menyulitkan pasokan air pertanian, petani di Desa Lagading, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), membuktikan bahwa sawah tadah hujan pun mampu menyumbang hasil panen yang luar biasa. Berkat pengelolaan sumber air alternatif yang terencana, petani bernama Muslimin berhasil memanen 11,346 ton gabah pada Musim Tanam (MT) II tahun 2026.
Muslimin menggarap lahan seluas 145,85 are atau sekitar 1,46 hektare di wilayah Lompo Lebongnge, Dusun I Lagading. Lahan tersebut tergolong sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan β sehingga saat musim kemarau tiba, ketersediaan air menjadi tantangan utama.
Namun, Muslimin tidak menyerah pada keterbatasan alam. Ia memanfaatkan **embung sebagai tampungan air** yang dipadukan dengan **pompa air berukuran 3 inci** untuk menyalurkan air ke lahan sawahnya. Kombinasi teknologi sederhana namun tepat sasaran ini menjaga pasokan air tetap terjaga hingga tanaman padi siap dipanen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sumber air tidak lagi hanya menggantungkan pada hujan. Dengan embung dan pompa, tanaman tetap terairi dengan baik meski curah hujan sedang rendah,”ungkap Muslimin, anggota Kelompok Tani Lagading.
Upaya keras Muslimin membuahkan hasil yang membanggakan. Sebanyak 93 karung gabah berhasil dikumpulkan, dengan total produksi mencapai 11,346 ton gabah. Jika dihitung berdasarkan luas lahan, tingkat produktivitasnya mencapai sekitar 7,78 ton gabah per hektar β angka yang sangat mengesankan untuk lahan tadah hujan di musim kemarau.
Secara ekonomi, hasil panen ini pun membawa berkah yang nyata. Dengan harga gabah yang berlaku saat itu sebesar Rp7.700 per kilogram, total nilai produksi yang diraih Muslimin mencapai Rp87.364.200.
Kisah sukses Muslimin menjadi bukti nyata bahwa sawah tadah hujan tetap memiliki peluang besar untuk produktif bahkan di musim kemarau, asalkan sumber air dikelola dengan sebaik-baiknya. Embung berfungsi menyimpan cadangan air, sementara pompa air membantu menyalurkannya secara merata ke seluruh lahan.
Bagi masyarakat petani di Desa Lagading, pemanfaatan sumber air alternatif kini menjadi strategi andalan untuk menjaga keberlanjutan produksi padi. Teknologi pengairan sederhana ternyata mampu menjadi solusi efektif dalam menjaga produktivitas lahan dan menjamin ketersediaan pangan, sekalipun di tengah tantangan iklim yang tidak menentu.









